Ekonomi Afghanistan Turun Sampai 20 Persen Usai Taliban Kuasai Ibu Kota

Ekonomi Afghanistan Turun 20 Persen – Mantan kepala Bank Central Afghanistan Ajmal Ahmady Memprediksikan Ekonomi Negara Afghanistan akan mengalami penurunan hingga mencapai 20 persen dalam tahun 2021 saat ini.

Ekonomi Afghanistan Turun 20 Persen

Ekonomi Afghanistan Turun 20 Persen

“saya tidak ingin mengatakan hancurnya ekonomi Afghanistan, tetapi saya pikir itu akan menjadi situasi ekonomi yang sangat menantang atau sulit.” Ungkap Ahmady, saat di kutip oleh BBC. Senin (13/9/2021).

Ahmady memprediksikan akan mengalami penurunan 10 sampai 20 persen dalam setahun ini, ia juga mengatakn sansi internasional yang memblokir dana bantuan dan membatasi akses ke cadangan US$ 9 Milyar, hal ini juga mempengaruhi kekurangan mata uang domestik di sana.

Ahmady diketahui telah melarikan diri dari Negara Afghanistan tertelah Taliban menguasai Kabul pada pertengahan Agustus lalu 2021.

“Afghanistan tidak memiliki mesin cek uang sendiri, Jelas akses dollar akan sangat dibatasi sekarang. akan tetapi ada pertanyaan dengan mata uang lokal.” Terangnya.

pasalnya, negara itu tidak memiliki mesin cetak uang sendiri, Bank Central mengharapkan pengiriman mata uang sebesar dua milyar dari sebuah perusahaan Polandia. Selain itu, mereka juga sudah mendatangani kontrak untuk 100 milyar dari sebuat perusahaan di Prancis.

Namun, kedua perusahaan tersebut sekarang tidak mungkin bisa mengirimkan paket tagihan ke sana, Terangnyaa Ahmady.

Selain krisis uang tunai, kalian akan melihat mata uang terdepresiasi dan kenaikan inflasi karena kita mengimpor sebagian makanan, saberfikir itu akan menjadi kendala bagi taliban nantinya. Terangnya.

Diketahui sebagian besar dana cadangan Negara di simpan di Amerika Serikat, hal ini untuk menjauhkan dari pasukan Taliban, sementara itu IMF dan Bank Dunia telah membekukan programm pinjam apapun dengan Taliban.

Dengan ini Taliban akan sangat kesulitan tidak hanya dengan uang saja, ia akan menghadapi Ekonomi yang akan anjlok, terlebih ia juga akan kekurangan pasokan uang tunai dan bahan pangan yang harus impor dari luar.

Kesalahan terbesar Taliban adalah memblokir semua akses dari luar yang akan membantu perkebangan ekonomi atau jalur akses untuk kepentingan Negara Afghanistan itu sendiri. Kita hanya bisa berdoa untuk masyarakat Afghanistan agar dapat bertahan disana dari tekanan Taliban.

Harga Minya Naik Tajam Joe Biden dan Xi Jinping Sepakat

Harga Minya Naik Tajam – Minyak bumi diketahui naik tajam pada jumat (10/9/2021), Penguatan harga minyak ini juga turut didukung oleh harapan pedagang Amerika-China yang akan memberi dorongan pada aset-aset beresiko setelah pembicaraan Presiden Joe Biden dengan salah satu pemimpin Presiden China Xi Jinping hari ini.

Harga Minya Naik Tajam

Harga Minya Naik Tajam

Minyak mentah berbentuk Brent untuk pengiriman Novenber molonjak naik menjadi $1,47 Dollar US atau 2,3 Persen, menjadi menetap di $72,92 dollar US, setelah mencapai tertinggi $73,15 per barelnya.

Sepekan ini harga minyak metah AS naik 0,6 persen, semntara sementara minyak mentah Brent main 0,4 persen. Selama setahun ini memang ada pengurangan pasokan oleh organisasi negara pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa pemulihan permintaan dari pandemi.

Sekitar tiga perempat dari produksi minyak lepas pantai teluk AS ada sekitar 1,4 juta barel per hari, akan tetapi di bulan agustus berakhir. Jumlah itu kira-kira sama dengan yang dihasilkan anggota OPEC, di Nigeria.

Sementara China melepaskan minyak cadangannya, Jumlah ini lebih besar daripada pengurangan produksi di teluk Mesiko.

Pasar minyak juga mendapatkan dorongan dari adanya pemberitaan telpon antara Biden dan presiden Xi. Pembicaraan antara Presiden AS-China membuat meningkatan harapan untuk hubungan yang lebih hangat dan lebih banyak perdagangan global, Kata para Analisa minyak dunia.

Diketahui Amerika juga sudah menambah Ring dalam minggu terakhir, Penyedian layanan energi Baker Hughes mengatakan tambahan ring menunjukan produksi mungkin meningkat dalam beberapa minggu mendatang, ungkapnya.a

Waktu lalu minyak mentah turun lebih dari 1,0 setelah China mengatakan akan melepas minyak mentah cadangannya melalui pelelangan public, hal ini guna untuk membantu meringankan biayabahan baku yang tinggi bagi para penyuling.

Untuk minggu depan revisi prospek permintaan minyak untuk 2022 dari OPEC dan Badan Energi Internasional. OPEC memungkinkan akan merevisi turun perkiraan pada senin (13/9/.2021) data ini di dapat dari sumper terpercaya OPEC.

“pasar kembali focus pada situasi pasokan yang lebih ketatsecara global, dan itu memberinya dorongan,” kata Phil Flynn senior di grup Price Futures di Chicago.